NEWSKOTA.COM – Ratusan jenis satwa unik dan eksotis unjuk kebolehan dalam ajang Prana Satwa Brawijaya 2026 yang digelar di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur, pada 24–25 Oktober 2026.
Mulai dari ayam hias berbulu indah, merpati hias, kucing, hingga satwa eksotis seperti kura-kura, musang, burung hantu, dan beraneka jenis reptil sukses menyedot perhatian pengunjung. Sedikitnya 150 jenis satwa dihadirkan dalam kegiatan yang mempertemukan para pecinta satwa, peternak, komunitas, hingga kalangan akademisi tersebut.
Prana Satwa Brawijaya 2026 tak sekadar menjadi ajang kontes bertengsi tinggi, tetapi juga wadah edukasi untuk mengenalkan keragaman hayati kepada masyarakat luas. Ajang ini menggandeng enam asosiasi nasional, yaitu:
1. Asosiasi Pecinta Ayam Hias
2. Indonesia Fancy Pigeon Community
3. Serama Malang Lovers (SEMALOV)
4. Indonesian Cat Association (ICA)
5. Himpunan Ayam Pelung Indonesia (HIPAPPI)
6. Komunitas Malang Glow Exotic (MAGE)
Ketua Panitia Prana Satwa Brawijaya 2026, Dr. Asri Nurul Huda, menjelaskan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi sejak hari pertama.
“Hari pertama diisi kontes kucing yang diikuti sekitar 85 pendaftar. Sementara itu, kompetisi ayam dan merpati hias pada hari kedua melibatkan hingga 500 pendaftar. Khusus kategori merpati hias, panitia menyiapkan 44 kategori perlombaan,” terang Dr. Asri, Minggu (25/10/2026).
Salah satu peserta dari luar daerah, Arifin dari Nayra Farm Kediri, memboyong ayam hias Onagadori asal Jepang yang terkenal dengan ekor panjang dan karakternya yang jinak. Selain Onagadori, ia membawa 6 ekor ayam hias lain serta 70 ekor burung dara untuk berlaga memperebutkan Piala Rektor UB dan sertifikat resmi.
Edukasi Satwa Eksotis hingga Kampanye Makan 2 Telur Sehari
Di luar arena kontes, pengunjung dibekali berbagai pengetahuan praktis mengenai perawatan satwa hingga materi edukasi penting seperti penanganan awal (first aid) saat terjadi gigitan ular.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, menyambut positif gelaran ini. Menurutnya, pengenalan keanekaragaman satwa sangat penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kekayaan hayati dan variasi genetik.
“Potensi tersebut dapat dikembangkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, mulai dari pemenuhan kebutuhan gizi hingga pengembangan bidang medis,” tutur Prof. Widodo.
Menariknya, pembukaan acara ini juga diwarnai dengan aksi makan telur bersama sebagai bentuk kampanye peningkatan gizi masyarakat melalui konsumsi dua butir telur per hari. Prof. Widodo menambahkan bahwa sektor satwa hias dan peternakan memiliki peluang ekonomi menjanjikan yang sangat potensial digarap oleh generasi muda.
Sinergi Quadruple Helix: Akademisi, Industri, Komunitas, dan Media
Suksesnya Prana Satwa Brawijaya 2026 merupakan buah kolaborasi antara Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) UB bersama PT Charoen Pokphand Indonesia dan PT CP Petindo.
Regional Head of East Java PT Charoen Pokphand Indonesia, Benyamin Limi, mengapresiasi kemitraan strategis dengan UB, salah satunya melalui pengembangan pakan khusus unggas hias berprobiotik yang diproduksi sejak dua tahun lalu.
Sementara itu, Dekan FAST UB, Prof. M. Halim Natsir, menegaskan pentingnya sinergi quadruple helix yang mempertemukan empat pilar utama: akademisi, industri, asosiasi peternak, dan media.
“Sinergi ini diarahkan untuk mendukung pengelolaan plasma nutfah nasional sekaligus meningkatkan kualitas lulusan agar sesuai dengan kebutuhan industri,” jelas Prof. Halim.
Bentuk konkret kolaborasi tersebut diantaranya diwujudkan melalui hibah fasilitas teaching farm berteknologi closed house serta riset bersama dalam pengembangan pakan aditif untuk menghasilkan telur kaya Omega-3 di FAST UB. (QIY)




