BisnisLifestyleUmum

YouTube Perketat Monetisasi, Konten AI Massal dan Minim Kreativitas Terancam Tak Lagi Dibayar

302
×

YouTube Perketat Monetisasi, Konten AI Massal dan Minim Kreativitas Terancam Tak Lagi Dibayar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi - Foto Istimewa

NEWSKOTA.COM – YouTube resmi memperketat aturan monetisasi bagi para pembuat konten (creator). Melalui pembaruan kebijakan Program Mitra YouTube (YouTube Partner Program/YPP), platform berbagi video milik Google ini menegaskan tidak akan lagi memberikan penghasilan kepada kanal yang mengandalkan konten berulang, minim kreativitas, dan diproduksi secara massal menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Langkah tegas ini diambil untuk membendung fenomena membanjirnya konten buatan AI yang dinilai hanya mengejar views (jumlah tayangan) tanpa memberikan nilai tambah (value) bagi penonton.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Kepala Kepercayaan dan Keamanan YouTube, Matt Halprin, menyampaikan bahwa teknologi AI pada dasarnya memiliki potensi besar untuk mendongkrak kreativitas. Namun di sisi lain, teknologi ini sering kali disalahgunakan untuk memproduksi video seragam secara massal dengan usaha (effort) yang sangat minim.

“Beberapa video AI benar-benar meningkatkan kreativitas dan membantu kreator menghasilkan konten berkualitas dalam jumlah lebih banyak. Itulah yang ingin kami dorong di YPP. Namun, teknologi yang sama juga memungkinkan praktik content farming. Itulah yang tidak kami inginkan,” ujar Halprin, dikutip dari TechCrunch, Kamis (23/7/2026).

Daftar Jenis Konten yang Terancam Dicoret dari YPP
Melalui kebijakan terbarunya, YouTube merinci beberapa kategori konten yang berpotensi besar kehilangan hak monetisasi dan dicoret dari program YPP:

1. Konten Berulang & Minim Orisinalitas: Video yang diproduksi secara massal menggunakan AI, CGI, atau template dengan sedikit atau tanpa sentuhan kreatif dari kreator.

2. Hasil Reproduksi/Kemas Ulang: Video yang hanya menyalin atau mengemas ulang karya orang lain (termasuk beberapa jenis video tutorial) tanpa memberikan nilai tambah yang signifikan.

3. Eksploitasi & Manipulasi Emosi: Konten yang sengaja dirancang memancing kesedihan atau simpati demi engagement, seperti video rekayasa penyelamatan hewan yang sengaja ditempatkan dalam kondisi sengsara.

READ  BI Inisiasi Pengembangan Sandbox QRIS Antarnegara Indonesia-Korea Selatan

4. Persona AI pada Isu Sensitif: Video yang memanfaatkan representasi digital (virtual persona) untuk membahas topik krusial seperti keuangan, hukum, kesehatan, hingga layanan medis.

YouTube menegaskan bahwa aturan orisinalitas ini tidak hanya menyasar konten AI, tetapi juga berlaku untuk konten non-AI yang terbukti melanggar standar kualitas platform.

AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Mesin Pencetak Uang Otomatis
Pembaruan kebijakan ini mempertegas arah baru YouTube di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI. Platform ini ingin memastikan aliran dana dari iklan hanya mengalir kepada kreator yang benar-benar menghadirkan konten orisinal, kreatif, dan bermanfaat.

Melalui aturan baru ini, YouTube memberikan pesan yang sangat jelas kepada ekosistemnya: penggunaan AI tidak dilarang, tetapi AI harus difungsikan sebagai alat (tool) untuk meningkatkan kualitas karya, bukan sekadar mesin produksi konten massal demi mengejar pendapatan iklan. (RTO)