Umum

Hadapi Musim Hujan 2026, Pemkab Sidoarjo Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

309
×

Hadapi Musim Hujan 2026, Pemkab Sidoarjo Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

Sebarkan artikel ini
(foto : Diskominfo Sidoarjo)

NEWSKOTA.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo terus memperkuat langkah mitigasi untuk mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, angin kencang, hingga potensi kekeringan. Selain mengintensifkan normalisasi sungai di wilayah rawan, Pemkab Sidoarjo menyiagakan puluhan unit peralatan darurat serta mengaktifkan posko siaga di kawasan strategis.

Kesiapsiagaan daerah delta ini ditandai melalui pelaksanaan Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi yang dipimpin langsung oleh Bupati Sidoarjo Subandi di Alun-alun Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (6/11/2026). Apel ini melibatkan sedikitnya 400 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, Basarnas Surabaya, PLN, PMI, perangkat daerah Pemkab Sidoarjo, hingga para relawan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Pemetaan Wilayah Rawan dan Armada Darurat
Berdasarkan pemetaan wilayah, beberapa kawasan yang mendapat perhatian ekstra terkait potensi banjir meliputi Kecamatan Tanggulangin, Porong, Candi, Waru, Jabon, Krembung, dan wilayah Sidoarjo Kota.

Untuk menunjang penanganan kedaruratan di lapangan, sejumlah sarana dan prasarana utama telah disiapkan, antara lain:

1. Pompa air: 17 unit

2. Rumah air: 32 unit tersebar di 6 kecamatan (Taman, Tanggulangin, Sidoarjo, Waru, Candi, dan Porong)

3. Kendaraan operasional & evakuasi: 51 kendaraan operasional, 10 sepeda motor trail, 12 mobil pemadam kebakaran, 4 perahu karet, dan ambulans

4. Peralatan logistik & darurat: 40 tenda pengungsian, 2 dapur umum, 20 genset, dan 50 gergaji mesin

Selain sarana fisik, satu posko siaga utama BPBD dan empat posko bencana di Tanggulangin, Porong, Candi, serta Jabon disiagakan agar dapat langsung diaktifkan begitu banjir melanda.

Instruksi Bupati dan Tantangan Geografis Delta
Bupati Sidoarjo Subandi menginstruksikan seluruh jajaran di tingkat kecamatan untuk segera mengaktifkan posko bencana dan mempererat koordinasi lintas sektor. Menurutnya, kesiapsiagaan adalah kunci utama menghadapi bencana yang waktunya tidak dapat diprediksi.

READ  Pertamina Patra Niaga Percepat Distribusi BBM Subsidi, Antrean di SPBU Jawa Timur Berkurang

“Saya instruksikan masing-masing kecamatan mengaktifkan posko bencana. Kolaborasi harus terus ditingkatkan, termasuk melalui forum dan pelatihan kebencanaan. Bencana ini tidak bisa diperkirakan sehingga harus kita tanggulangi dengan kesiapsiagaan,” tegas Subandi.

Pengendalian banjir juga dilakukan secara simultan melalui pengerukan dan normalisasi sungai oleh Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Sidoarjo, khususnya di wilayah Tanggulangin, Porong, dan Candi. Di wilayah Kedungpeluk, Kecamatan Candi, pemerintah juga telah membangun dam berukuran besar yang dilengkapi pengerukan normalisasi.

Meski demikian, Subandi mengakui bahwa kondisi geografis Sidoarjo yang berbentuk wilayah delta memiliki tantangan tersendiri, terutama saat menghadapi fenomena air laut pasang (rob).

“Kalau air rob meluap, air tidak bisa langsung kita keluarkan. Kita harus menunggu sampai kondisi air memungkinkan, baru dilakukan pembuangan,” ungkap Subandi.

Ia menambahkan, meski ancaman di wilayah Delta Sidoarjo didominasi banjir, mitigasi juga disiapkan untuk menghadapi angin puting beliung, kebakaran, dan kekeringan. Sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, instansi terkait, dan relawan diharapkan mampu memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat.

Tren Bencana dan Prakiraan Cuaca BMKG
Langkah siaga ini diambil mengingat tren kejadian bencana di Sidoarjo cukup tinggi. Sepanjang 1 Januari hingga 1 November 2026, Kabupaten Sidoarjo mencatat total 28 kejadian bencana, yang terdiri dari:

– 4 kejadian banjir

– 21 kejadian angin kencang (menerjang 14 kecamatan dan 63 desa, merusak 288 rumah warga)

– 3 kejadian kekeringan

Sementara itu, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan di Sidoarjo berlangsung mulai Desember 2026 hingga Maret 2027, dengan puncak hujan diprediksi terjadi pada Februari 2027. Kendati durasi musim hujan diprediksi lebih singkat, adanya fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2027 membuat dinamika pola cuaca menjadi lebih sulit diprediksi. (WNH)