Umum

Bogasari SME Award 2025 Beri Penghargaan ke 10 UKM Digital

204
×

Bogasari SME Award 2025 Beri Penghargaan ke 10 UKM Digital

Sebarkan artikel ini

NEWSKOTA.COM – Memasuki usia penghargaan ke-15 tahun, Bogasari kembali memberikan penghargaan Bogasari SME (Small Medium Enterprise) kepada para UKM yang bergerak di sektor makanan berbahan dasar tepung terigu. Ada 10 UKM yang berhasil menjadi finalis dan dipilih 3 juara untuk kategori inovasi bisnis dan melek digital. Ketiga UKM tersebut adalah Papa Cookies dari Sragen sebagai juara 1, Home Made Bakery dari Jakarta (juara 2), dan UKM Sarimadu Bakery dari Samarinda (juara 3).

Budi Hartono, Vice President Marketing Bogasari menjelaskan, 10 finalis ini merupakan hasil seleksi dari 4 tahapan yang melibatkan tim internal Bogasari dan dewan juri eksternal yang merupakan para ahli di bidangnya. Ada 7 kriteria penilaian yang dilakukan, yakni: Clarity of business Presentation, Product Quality & Uniqueness, Market understanding dan Strategy, Innovation (Product, Proses, Packaging dan service), Digital Presence & Branding, Growth Potential & Business Feasibility, serta Presentation Delivery & Profesionalism.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

“Penilaian akhir dilakukan dengan presentasi langsung di hadapan dewan juri. Para finalis mempresentasikan inovasi bisnis, strategi pemasaran, digitalisasi usaha. Selain itu para UKM diwajibkan membawa produknya untuk dinilai langsung oleh dewan juri. Presentasi dilakukan sore menjelang malam, dan acara ditutup dengan makan bersama dan hiburan tari tradisional dari Padepokan Jugala,” papar Budi Hartono dalam siaran pers yang dibagikan kepada media, Jumat (12/12/2025).

Anugerah Penghargaan Bogasari SME Award 2025 berlangsung di Bekasi, Rabu (10/12/2025) setelah mengikuti penjurian di Bandung pada Senin (8/12/2025) dan dihadiri ratusan UKM dari wikayah DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Penghargaan diberikan oleh Wakil Kepala Divisi Bogasari Erwin Sudharma dan Budi Hartono. Bogasari SME Award kali ini mengusung tema “Level Up UKM: Inovasi dan Digitalisasi untuk Bisnis yang Kokoh”.

READ  Bongkar Praktik Ilegal, Polres Sumenep Amankan Empat Pria Pelaku Pengoplosan Gas Subsidi

Budi mengungkapkan, total ada 119 UKM yang mendaftar untuk mengikuti Bogasari SME Award 2025. Mereka berasal dari 37 kabupaten dan 32 kota yang tersebar di 19 provinsi di Indonesia. Adapun produk para UKM peserta awal Bogasari SME Award 2025 ini sangat beragam. Sebanyak 56,3 persen roti dan pastry, 14,3 persen jajanan pasar dan gorengan, 11,8 persen mi dan kulit pangsit, 10.1 persen cake, 4,2 persen kue kering dan biskuit, 3,4 persen keripik, tepung bumbu dan lainnya.

Selain 3 UKM juara, ada 7 UKM yang menjadi nominator yakni adalah Pride Chicken asal Bandung, Choco Bakery (Medan), Monica & Loren (Lampung), Mi Djoetek (Kediri), Mak Enak (Jember), Roti Gembong Gedhe (Jawa Tengah), dan Syarah Bakery (Bengkulu). Para juara dan nominator Bogasari SME Award 2025 mendapatkan hadiah edutrip atau wisata edukasi ke luar negeri dan kesempatan promosi usaha dari Bogasari, baik melalui platform digital maupun printing.

“Penghargaan Bogasari SME Award 2025 dan kategori yang dipilih tahun ini merupakan apresiasi tertinggi dari Bogasari serta komitmen dalam membangun ekosistem UMKM berbasis terigu, Kami menghadirkan konsep penyaringan berlapis agar benar-benar menemukan UKM yang tidak hanya kuat secara operasional, namun juga punya visi digitalisasi dan inovasi jangka panjang,” ucap Budi Hartono.

Penilaian Bogasari SME Award 2025 ini melibatkan 3 juri ahli dan 1 juri spesial. Mereka adalah Direktur Konten Digital Kementerian Ekonomi Kreatif (Yuana Rochma Astuti), Founder Adaptable Consulting (Rama Syahid), dan Celebrity Chef (Jenny Hendrawati). Sedangkan untuk juri spesial ialah Direktur Kuliner Kementerian Ekonomi Kreatif (Andy Ruswar).

Menurut dewan juri, dari 7 kriteria, Papa Cookies yang menjadi Juara 1 Bogasari SME Award 2025 karena memiliki keunggulan paling merata di semua aspek. Inovasi produk yang kuat, branding dan digital presence yang konsisten dan efektif, pengemasan yang profesional berorientasi ekspor dan retail modern, model bisnis yang masih bisa terus dikembangkan, serta pemahaman pasar dan strategi ekspansi yang matang dan terukur.

READ  Terminal Arjosari Perketat Ramp Check Bus Jelang Libur Nataru 2025/2026

“Papa Cookies Ini menunjukkan keseimbangan antara inovasi, digitalisasi, dan kekuatan fondasi bisnis. Yang jelas pesertanya keren-keren dan kami cukup kebingungan dalam melakukan penilaian. Ditambah ada peserta yang masih muda, namun punya semangat berwirausaha dan sukses di dunia digital juga. Kami kira konten kreator berkedok jualan ayam. Ternyata salah satu peserta Bogasari SME Award 2025 dan pemiliknya langsung, hahaha…,” ungkap Rama Syahid terkagum-kagum.

Profil Singkat UKM
Sebagai informasi, UKM Papa Cookies berdiri pada tahun 2010. Pemiliknya adalah Eriyanto yang sebelumnya bekerja di dunia perbankan dana memutuskan untuk membuka usaha sendiri dengan mengirimkan istrinya yang bernama Lilis Ismiansih untuk pelatihan di di Bogasari Baking Center (BBC) Yogyakarta. Bermodalkan Rp 100 ribu, istri Eriyanto membuat kue yang dijual di kantornya sendiri. Dari sana Papa Cookies terus berkembang menjadi salah satu raksasa bakeri yang sudah memiliki 211 cabang di berbagai daerah di Indonesia.

“Terima kasih Bogasari, sampai saat ini masih peduli akan perkembangan UKM di Indonesia. Tidak hanya konsisten memberikan penghargaan seperti Bogasari SME Award ini, tapi juga edukasi rutin bagi UKM melalui KIAT (Kunci Informasi dan Teknologi), dan pelatihan Bogasari Baking Center (BBC),” ujar Eriyanto Eko Purnomo, Pemilik Papa Cookies asal Sragen yang pernah menjadi Nominator Bogasari SME Award tahun 2019.

Kisah perjuangan usaha juga dimiliki Darwin Sofjan, pemilik Home Made Bakery yang memulai usaha roti rumahan sekitar tahun 1992. Karena berasal dari produksi rumahan itulah ia memberikan nama usahanya “Home Made Bakery”. Saat itu, ia hanya dibantu istri dan 1 karyawan untuk membuat roti dan menjualnya di stan yang ia sebut I-land unit. Ditambah dengan 15 sales yang berjualan secara keliling menggunakan sepeda.

READ  Dampak Gempa Bekasi: Mushola di Bojongmangu Rata dengan Tanah, BPBD Imbau Warga Waspada

“Kita memang mempersiapkan usaha ini dengan matang. Sebelum mulai produksi saya belajar ke Singapura, Jepang, dan Taiwan selama kurang lebih 6 bulan untuk belajar membuat roti dan pemasarannya, sekarang kita sudah memiliki sekitar 31 outlet di wilayah Jakarta dan sekitarnya,” ungkap Darwin.

Lain lagi dengan UKM Sari Madu Bakery asal Samarinda yang berhasil meraih juara 3. Awalnya Ricky Leonardo dan istrinya, Khalimatu Sadiah memulai usaha elektronik, hingga bangkrut dan memiliki utang miliaran rupiah. Sempat frustasi namun tak mau menyerah. Tahun 2017, sang istri memulai kembali usaha berbasis roti dari sisa uang sekitar 70 juta.

“Alhamdulillah, pas pembangunan infrastruktur IKN di Kalimantan, kita mendapat banyak orderan dan bisa membuat Sari Madu Bakery bisa meningkat pesat. Alhamdulillah, 6 bulan lalu utang sudah terbayar lunas. Sekarang Sari Madu Bakery memiliki 2 outlet dan sedang kami siapkan untuk pembukaan beberapa cabang lagi,” ungkap Khalimatu Sadiah pada saat presentasi pengembangan usaha di depan juri. (MLS)