PemerintahanUmum

Sinergi Kemensos-INABA, Sekolah Rakyat Didorong Jadi Jalan Keluar dari Kemiskinan

378
×

Sinergi Kemensos-INABA, Sekolah Rakyat Didorong Jadi Jalan Keluar dari Kemiskinan

Sebarkan artikel ini

NEWSKOTA.COM – Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat kolaborasi dengan Universitas Indonesia Membangun (INABA) melalui program Sekolah Rakyat sebagai bagian dari upaya mempercepat pengentasan kemiskinan.

Penguatan kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kemensos dan INABA di Ruang Rapat Utama Kemensos, Jakarta, Selasa (11/8/2026). Penandatanganan dihadiri Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico, jajaran pejabat Kemensos, serta perwakilan Universitas INABA.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan, kerja sama dengan INABA menjadi bagian dari upaya memperkuat gotong royong dalam menjalankan mandat Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam pengentasan kemiskinan.

Menurut Agus Jabo, kolaborasi Kemensos dan INABA sebenarnya telah berlangsung sebelum MoU ditandatangani. Perguruan tinggi tersebut sebelumnya telah terlibat dalam berbagai kegiatan di 16 titik Sekolah Rakyat.

“Kita sudah melewati satu proses sebelum kita melakukan MoU, kita sudah berkolaborasi di 16 titik. Mudah-mudahan nanti kerja sama ataupun kolaborasi ini bisa diperluas dalam rangka kita melaksanakan mandat Presiden, yaitu pengentasan kemiskinan,” ujar Agus Jabo.

Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi memberikan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga miskin. Lebih dari itu, program tersebut dirancang untuk membekali siswa agar memiliki kapasitas untuk bekerja, mandiri, maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Agus Jabo mengutip arahan Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya mempersiapkan siswa Sekolah Rakyat agar mampu bekerja dan pada akhirnya dapat menggraduasi dirinya serta keluarganya dari kemiskinan.

“Anak-anak ini biar bekerja dulu, supaya apa? Supaya bisa menggraduasi dirinya, menggraduasi orang tuanya,” katanya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, kata Agus Jabo, siswa membutuhkan kapasitas yang memadai. Pendidikan di Sekolah Rakyat karenanya tidak hanya menitikberatkan pada pengetahuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, keterampilan, dan kepercayaan diri.

“Di sekolah rakyat ini kita menyampaikan setiap siswa harus berilmu, artinya dia harus pintar. Yang kedua, setiap siswa karena latar belakang siswa Sekolah Rakyat ini berbeda dengan siswa-siswa reguler yang lain, mereka harus kita ubah mindset-nya, harus kita ubah karakternya,” ujarnya.

Menurutnya, siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan dan kehidupan yang layak. Kondisi tersebut membuat pendidikan perlu diberikan secara menyeluruh agar mampu menjadi pintu keluar dari kemiskinan antargenerasi.

“Di samping kita memberikan ilmu kepada anak-anak dari keluarga miskin ini, kita juga harus bisa mengubah mindset dan karakter mereka,” kata Agus Jabo.

READ  Amran Minta Dirkrimsus Selidiki 7 Perusahaan yang Diduga Hambat Penyerapan Tebu Petani

Selain kemampuan akademik, siswa juga didorong memiliki keterampilan dan kepercayaan diri sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun membangun usaha.

“Yang lain-lain kita kemudian bekerja sama dalam peningkatan kapasitas siswa, terutama tadi dalam menjadikan mereka anak-anak yang pintar, anak-anak yang berkarakter, dan anak-anak yang terampil sekaligus mereka punya kepercayaan diri yang luas,” ujarnya.

Agus Jabo menilai perubahan pada siswa Sekolah Rakyat juga dapat memberikan dampak positif bagi keluarga. Pendidikan anak, menurutnya, dapat menjadi sumber harapan baru bagi orang tua yang sebelumnya memiliki keterbatasan.

“Ini membangun harapan. Jadi ibu-ibu yang sudah tidak punya harapan, anaknya bisa sekolah, bapak-bapak yang sudah tidak punya harapan untuk sekolah, kemudian melihat anaknya sekolah, karakternya sudah berubah, itu membangkitkan semangat hidup mereka,” katanya.

Ia mencontohkan perubahan yang dapat terlihat setelah siswa mengikuti pembinaan selama beberapa bulan. Mulai dari kedisiplinan, kemampuan berbicara di depan umum, kemampuan berbahasa Inggris hingga kebiasaan bangun pagi.

“Begitu kita urus selama tiga bulan, enam bulan, mereka sudah bisa berpidato, bisa bahasa Inggris, mereka bisa bangun pagi,” ujarnya.

Karena itu, Agus Jabo menegaskan keberhasilan Sekolah Rakyat tidak berhenti ketika siswa menyelesaikan pendidikan di sekolah. Keberlanjutan setelah lulus menjadi bagian penting yang perlu dipersiapkan sejak awal.

Sekolah Rakyat saat ini mencakup pendidikan hingga jenjang SMA. Setelah lulus, siswa perlu memiliki akses untuk melanjutkan pendidikan tinggi maupun memasuki dunia kerja.

“Kalau kemudian setelah mereka lulus SMA, tidak melanjutkan kuliah atau tidak bekerja, artinya program Sekolah Rakyat tidak selesai,” tegasnya.

Dalam konteks tersebut, Agus Jabo berharap INABA dapat turut membuka akses pendidikan tinggi bagi lulusan Sekolah Rakyat, salah satunya melalui pemberian beasiswa.

“Paling minimal, di samping kita kolaborasi mendidik para siswa ini, INABA memberikan beasiswa, berapa slotnya mungkin. Tapi kemudian kita sudah bisa memintakan bahwa INABA ternyata juga bisa menampung anak-anak ini untuk bisa bersekolah dalam rangka penguat persiapan mereka, menaikkan kapasitas mereka untuk bekerja,” tuturnya.

Agus Jabo menegaskan, pengentasan kemiskinan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah tidak dapat menjalankan agenda tersebut seorang diri sehingga kolaborasi dengan perguruan tinggi dan berbagai elemen masyarakat menjadi penting.

“Kita harus berkolaborasi, kita harus bergotong royong,” katanya.

Kolaborasi Sudah Berjalan Enam Bulan

Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico mengatakan, penandatanganan MoU dengan INABA merupakan tindak lanjut dari kolaborasi yang telah berjalan di Sekolah Rakyat.

READ  Menkeu Purbaya Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa Tembus 6 Persen

Menurut Robben, kerja sama perguruan tinggi dengan Sekolah Rakyat sebelumnya telah diwujudkan melalui berbagai kegiatan di lapangan. Kemensos kemudian memperkuat kerja sama tersebut setelah melihat hasil konkret dari kolaborasi yang telah dilakukan.

Dari tujuh program studi yang dimiliki INABA, empat di antaranya telah dikolaborasikan dengan Sekolah Rakyat. Bidang yang dikembangkan antara lain manajemen, komunikasi, dan informatika.

Program kolaborasi tersebut mencakup penguatan Bahasa Indonesia, coding dan artificial intelligence (AI), pendampingan, serta konsultasi. Kegiatan tersebut telah berlangsung sejak Februari 2026.

“Jadi hari ini sudah berjalan kurang lebih enam bulan, dan alhamdulillah sudah ada hasilnya. Makanya kemudian kami baru bisa menindaklanjuti dalam bentuk MoU,” ujar Robben.

Ia berharap model kolaborasi tersebut dapat diperluas ke Sekolah Rakyat lainnya. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya memberikan pendampingan selama proses pendidikan, tetapi juga membantu membuka akses bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Harapannya nanti sekolah-sekolah rakyat yang ada semuanya mendapatkan bimbingan dari teman-teman perguruan tinggi, khususnya adalah bimbingan terhadap nanti ke depannya saat realisasi anak-anak menuju ke perguruan tinggi,” katanya.

Robben juga berharap perguruan tinggi dapat membuka peluang beasiswa bagi siswa Sekolah Rakyat yang memiliki prestasi.

“Salah satu goal akhirnya nanti yang akan kami coba adalah membuka teman-teman untuk bisa memberikan beasiswa kepada anak-anak di Sekolah Rakyat yang memang berprestasi, agar kemudian bisa melanjutkan ke perguruan tinggi,” ujarnya.

INABA Dorong Tridharma Perguruan Tinggi

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas INABA Erna Herlinawati menyambut baik kerja sama dengan Kemensos. Menurutnya, kegiatan yang selama ini dilakukan di Sekolah Rakyat dapat terus dikembangkan dalam kerangka Tridharma Perguruan Tinggi.

“Insya Allah kegiatan-kegiatan yang selama ini sudah kami jalani di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 9, khususnya terkait dengan Tridharma Perguruan Tinggi, dapat kami tindak lanjuti, tentunya dengan dukungan dari Kemensos,” kata Erna.

Ia menjelaskan, keterlibatan INABA di SRMP 9 tidak hanya berupa pembelajaran kepada siswa. Kegiatan tersebut juga diarahkan menghasilkan berbagai luaran akademik, seperti modul pembelajaran, buku, dan publikasi.

“Tidak hanya berkegiatan memberikan pembelajaran kepada anak-anak di SRMP tersebut, namun kami juga menetapkan luaran dari kegiatan tersebut,” ujarnya.

Ke depan, INABA terbuka mengembangkan penelitian, penyusunan buku, hingga publikasi bersama Kemensos.

“Mungkin kalau berkenan dengan Kementerian Sosial, kita membuat buku bersama, penelitian bersama, kemudian publikasi bersama,” katanya.

READ  Dukung Transisi Energi, KAI Angkut 1,3 Juta Ton BBM dan Mulai Terapkan Biodiesel B50

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Universitas INABA Ayu Larasati mengatakan, kolaborasi sebelumnya juga diwujudkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat di 16 Sekolah Rakyat.

Kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan manfaat bagi siswa dan guru dengan memanfaatkan bidang keilmuan yang dimiliki perguruan tinggi.

“Di bulan Desember kemarin kita sudah melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di 16 Sekolah Rakyat dan tentunya semoga akan berdampak untuk siswa-siswi dan juga para guru,” ujar Ayu.

INABA juga berencana melanjutkan kegiatan pengabdian masyarakat di SRMP 16. Salah satu agenda yang disiapkan adalah peningkatan soft skill dan interpersonal skill bagi siswa.

“Rencananya minggu depan juga di hari Jumat di SRMP 16, kegiatan pengabdian masyarakat dari dosen kami kepada guru dan juga siswa-siswi untuk kegiatan peningkatan soft skill dan interpersonal skill bagi siswa-siswi,” katanya.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas INABA Ida Farida Oesman menambahkan, pelaksanaan kegiatan di Sekolah Rakyat diawali dengan identifikasi kebutuhan. Dengan demikian, bidang keilmuan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan sekolah.

“Kita memang lebih mengutamakan kebijakan pengajaran, kebijakan pengabdian. Yang sudah kita lakukan, kita identifikasi apa kebutuhan mereka, makanya muncul empat prodi yang kita munculkan di situ,” ujarnya.

Respons dari pihak Sekolah Rakyat, menurut Ida, cukup positif. Bahkan, sekolah meminta agar program pendampingan dapat dilanjutkan pada semester berikutnya.

“Kita membantu mereka, para guru, untuk membuat modul pengajaran. Curriculum mereka sudah punya, tapi mungkin mereka masih agak kebingungan. Nah, dengan mengusung para mahasiswa dan dosen sebagai pendamping, itu menjadi lebih terarah,” katanya.

Selain memberikan manfaat bagi sekolah, kegiatan tersebut juga menghasilkan luaran akademik bagi dosen dan mahasiswa, termasuk jurnal dan artikel sebagai bagian dari diseminasi hasil kegiatan.

INABA juga memiliki pengalaman dalam memberikan beasiswa bagi penyandang disabilitas melalui yayasan. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk mengembangkan peluang dukungan beasiswa bagi siswa Sekolah Rakyat.

Dengan penguatan kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi, Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin, tetapi juga menjadi jembatan menuju kemandirian, pendidikan tinggi, dan dunia kerja. Pada akhirnya, keberhasilan program tersebut diharapkan mampu memutus mata rantai kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga penerima manfaat. (IZQ)