NEWSKOTA.COM – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, dinamika aktivitas belanja daring dan pertukaran informasi di Indonesia meningkat pesat. Namun, tren positif ini juga dibarengi dengan risiko kejahatan siber yang semakin beragam. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga November 2025, kerugian masyarakat akibat penipuan transaksi belanja online telah mencapai Rp1,14 triliun dari total 64.933 laporan.
Merespons hal tersebut, platform omnichannel perdagangan dan gaya hidup, Blibli, menginisiasi kampanye edukasi untuk mengajak masyarakat lebih waspada melalui kebiasaan sederhana: JEDA.
Mengenali Pola Penipuan yang Marak Terjadi
Penipuan belanja daring kini menggunakan berbagai teknik psikologis yang sulit dideteksi jika konsumen terburu-buru. Beberapa modus utama yang perlu diwaspadai antara lain:
Manipulasi Psikologis (Social Engineering): Pelaku menyamar sebagai kurir paket, petugas bank, atau layanan pelanggan resmi untuk meminta data sensitif seperti kode OTP dan password.
Umpan Keuntungan Instan (Baiting & FOMO): Penawaran diskon yang tidak masuk akal (misal: Diskon 90% dalam 5 menit) atau tawaran pekerjaan dengan komisi besar yang mengharuskan korban melakukan deposit uang.
Pencurian Identitas Digital (Phishing): Penggunaan tautan palsu yang menyerupai situs resmi atau penyamaran sebagai pimpinan perusahaan (company impersonation) untuk mencuri detail kartu kredit dan akun login.
Strategi JEDA: Berhenti Sejenak Sebelum Bereaksi
Nazrya Octora, Head of Public Relations Blibli, menjelaskan bahwa situasi yang serba cepat menjelang Lebaran sering kali membuat konsentrasi masyarakat lengah. “Penting bagi kita semua untuk mulai mempraktikkan JEDA sebelum bereaksi. Dengan berhenti sejenak, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk memvalidasi setiap informasi,” ujarnya.
Langkah JEDA yang diusung Blibli terdiri dari empat tahap sederhana:
1. J – Jangan reaktif: Jangan langsung mengklik tautan atau merespons telepon dari nomor asing.
2. E – Evaluasi informasi: Periksa kembali apakah penawaran atau informasi tersebut masuk akal.
3. D – Double-check: Lakukan pengecekan ulang melalui kanal resmi. Untuk Blibli, pelanggan bisa memverifikasi informasi di halaman www.blibli.com/bliblicare/.
4. A – Ambil keputusan dengan tenang: Putuskan tindakan setelah merasa yakin informasi tersebut benar dan aman.
Keamanan Sebagai Prioritas Utama
Keamanan digital tidak hanya bergantung pada kecanggihan sistem platform, tetapi juga pada kesadaran pengguna. Pola penipuan umumnya menyasar emosi manusia seperti rasa takut kehilangan promo (fear of missing out) atau kekhawatiran paket tidak sampai.
Blibli mengimbau agar masyarakat tidak pernah membagikan data rahasia kepada pihak mana pun dan selalu bertransaksi melalui kanal resmi guna menjaga ketenangan pikiran di tengah dinamika informasi yang masif menjelang Lebaran 2026. (DWV)




