Umum

JAPFA Tekan Angka Malnutrisi pada Siswa di Jawa Timur Melalui Edukasi dan Konsumsi Protein Hewani

290
×

JAPFA Tekan Angka Malnutrisi pada Siswa di Jawa Timur Melalui Edukasi dan Konsumsi Protein Hewani

Sebarkan artikel ini

NEWSKOTA.COM – Masalah malnutrisi atau malagizi pada anak usia sekolah dasar masih menjadi tantangan riil yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023, tercatat sebanyak 11% anak usia 5 hingga 12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Kondisi defisit pemenuhan zat gizi kronis ini salah satunya dipicu oleh rendahnya pola konsumsi protein hewani di kalangan anak-anak, di mana lebih dari 80% anak dan remaja Indonesia teridentifikasi mengalami defisit asupan tersebut akibat dominasi konsumsi makanan berbasis karbohidrat dan protein nabati.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Guna merespons persoalan tersebut, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) menggelar Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 sebagai sarana memperkuat edukasi publik serta memperingati perjalanan 18 tahun program sosial JAPFA for Kids. Melalui tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”, komitmen ini menyoroti berbagai intervensi gizi terintegrasi yang telah dijalankan secara nyata.

Salah satu fokus utama implementasi program tahun ini berada di wilayah Jawa Timur, tepatnya di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, dengan melibatkan total lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah dasar.

Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, menegaskan bahwa membangun masa depan Indonesia yang tangguh harus dimulai dengan menjamin pemenuhan nutrisi terbaik sejak dini agar anak dapat tumbuh di lingkungan yang sehat.

“Melalui pelaksanaan AKJJ yang memasuki tahun ketiga ini, pihak korporasi berupaya merangkul media massa guna memperluas kesadaran kolektif masyarakat dalam mempersiapkan generasi emas. Program kemitraan ini dijalankan dengan prinsip kontribusi bersama (sharing contribution), memosisikan dunia usaha bukan sekadar donatur pasif, melainkan mitra aktif yang bergerak bersama pihak sekolah, guru, orang tua, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), hingga jajaran birokrasi terkait,” ungkapnya.

READ  Pemprov dan DPRD Jatim Sepakati Nota Persetujuan KUA-PPAS P-APBD 2025

Secara teknis, upaya yang diaplikasikan di lapangan meliputi pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan berturut-turut untuk anak dengan status malnutrisi. Upaya ini didukung penuh oleh pakar gizi dari Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan (PKGK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. drg. Sandra Fikawati, MPH, yang memaparkan pentingnya peran vital protein hewani.

“Protein hewani memiliki kandungan asam amino esensial yang jauh lebih utuh dan lengkap dibandingkan protein nabati, sehingga menjadi instrumen utama yang sangat dibutuhkan dalam mendukung pacu pertumbuhan fisik serta optimalisasi perkembangan kognitif jaringan otak anak,”jelasnya.

Langkah taktis yang digulirkan JAPFA terbukti mencatatkan dampak positif yang signifikan pada perbaikan status gizi anak didik di berbagai daerah. Data internal perusahaan merekam, pada pemantauan tahun 2024 terdapat 51,5% atau setara 762 dari 1.479 siswa bermasalah gizi yang sukses pulih ke status gizi baik.

Tren positif tersebut terus meningkat pada periode evaluasi tahun 2025, di mana sebanyak 646 dari 1.034 anak terbukti mengalami perbaikan status kesehatan menuju gizi baik, atau mencatatkan persentase keberhasilan sebesar 62,5%. Pencatatan perkembangan fisik ini dimonitoring secara berkala setiap bulan memanfaatkan integrasi aplikasi digital khusus JAPFA for Kids.

Selain intervensi pangan bergizi, efektivitas keberlanjutan program juga didorong melalui pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui agenda rutin Hari Sehat JAPFA. Kegiatan ini mengajak para siswa membudayakan senam gizi seimbang, mencuci tangan memakai sabun di air mengalir, memeriksa kebersihan kuku, hingga membawa dan memakan bekal sehat bersama di sekolah.

Melalui sinergi berkelanjutan yang mempertemukan akurasi data lapangan, komitmen sektor privat, peran akademisi, serta publikasi media, diharapkan rantai masalah malnutrisi anak dapat diputus demi melahirkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi di masa depan. (kar)