LifestyleUmum

Jembatani Ekonomi dan Kesehatan, Yagitu Rumuskan Kebijakan Pola Hidup Sehat di Jatim

217
×

Jembatani Ekonomi dan Kesehatan, Yagitu Rumuskan Kebijakan Pola Hidup Sehat di Jatim

Sebarkan artikel ini

NEWSKOTA.COM – Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul (Yagitu) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pola Hidup Sehat dan Perilaku Konsumsi Masyarakat Jawa Timur” di Surabaya, Selasa (30/6). Forum ini bertujuan merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis data sebagai tindak lanjut atas riset yang melibatkan 437 responden di Jawa Timur.

Sekretaris Yagitu, Nuryadi, mengungkapkan bahwa riset ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kondisi kesehatan generasi muda di tengah dinamisnya perubahan pola kerja dan gaya hidup. Menurutnya, visi Generasi Emas 2045 tidak akan terwujud tanpa ditopang oleh generasi muda yang sehat.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

“Temuan riset menunjukkan masyarakat sebenarnya paham pentingnya pola hidup sehat, namun ada gap besar antara pengetahuan dan eksekusi. Hambatannya mulai dari konsistensi, keterbatasan waktu, biaya, hingga lingkungan sosial,” ujar Nuryadi saat memaparkan hasil riset.

Tren Work from Cafe dan Konsumsi Gula
Riset Yagitu turut memotret fenomena baru: budaya nongkrong dan tren bekerja dari kafe (work from cafe). Sebanyak 56 persen responden mengaku lebih sering mengonsumsi makanan dan minuman olahan di kafe, kedai, atau warung, dengan teh dan kopi sebagai menu terfavorit.

Nuryadi menilai fenomena ini positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, tempat-tempat tersebut kini menjadi titik konsumsi gula yang cukup tinggi. Data riset menunjukkan:

41,2% responden mengonsumsi makanan/minuman manis karena menikmati rasanya.

23,1% sebagai penambah energi.

14,9% karena faktor budaya dan kebiasaan.

Di sisi lain, harapan terbesar masyarakat kepada pemerintah adalah memperkuat edukasi dan kampanye hidup sehat (33 persen) serta memperbanyak fasilitas olahraga publik (20,8 persen).

Respons Pemerintah: Cari Titik Temu Ekonomi-Kesehatan
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang membuka FGD tersebut menegaskan pentingnya menyusun kebijakan kesehatan yang implementatif dan melibatkan multisektor, mulai dari pelaku usaha, akademisi, hingga komunitas.

READ  Jatim Siap Jadi Penggerak Utama Program Swasembada Susu dan Gula

“Tantangan terbesar kita adalah mencari titik temu antara pertumbuhan ekonomi melalui dunia usaha dengan perlindungan kesehatan masyarakat. Tidak ada solusi yang bisa sekadar copy-paste dari negara lain, kita harus memperhatikan kearifan lokal,” tegas Emil.

Emil menambahkan, penyakit tidak menular (PTM) akibat gaya hidup kini menjadi tantangan besar pascapandemi. Faktor pemicunya bukan hanya apa yang dikonsumsi, melainkan juga gaya hidup kurang bergerak (sedentary lifestyle) akibat tingginya penggunaan gawai.

Ancaman Penyakit pada Usia Muda
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Litbang Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Jatim, Wiwik Winarsih, mengingatkan bahwa prevalensi obesitas, diabetes, hipertensi, hingga penyakit ginjal kini kian marak ditemukan pada kelompok usia muda.

“Kita menghadapi beban ganda, mulai dari stunting, obesitas, hingga kekurangan zat gizi mikro. Tantangan terbesarnya adalah mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat yang sudah terbentuk lama, termasuk tingginya konsumsi pemanis,” kata Wiwik.

Sementara itu, akademisi UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Irfan, menyarankan agar edukasi kesehatan bergeser ke arah praktis dan menyasar ruang konsumsi langsung seperti kafe, minimarket, dan kantin tempat kerja.

“Masyarakat sudah tahu gula berlebih itu tidak baik. Yang mereka butuhkan adalah panduan praktis, misalnya memilih menu less sugar, mengganti satu minuman manis harian dengan air putih, atau membaca label kandungan gula,” pungkas Irfan. (QSM)